Bersyukur
saya adalah wanita biasa yang mencoba menjadi wanita yang istimewa, wanita yang bisa melakukan suatu hal yang menurut saya itu luar biasa. saya berusaha dari bawah, berjalan perlahan bahkan saya tidak peduli jika saya harus merangkak sekalipun. begitu ambiusnya saya dalam mengejar sesuatu, padahal saya sadar bahwa saya tidak sanggup. kemudian apa yang saya lakukan? menyerahkah? mengalahkan? berhentikah? tentu tidak, saya tidak pernah menyerah dalam suatu keadaan jika keadaan itu masih memiliki jalan lain untuk dilewati. Kemudian dalam perjalanan menuju target yang sudah saya tentukan, tidak lepas dari yang namanya ujian, entah itu ujian teman, keluarga, lingkungan, pasangan dan lain sebagainya, kadang saya berfikir "ah ya Allah kayaknya saya ngak sanggup deh", pernah dan bahkan mungkin berkali-kali saya terjatuh, bangkit, terjatuh lagi dan bangkit lagi, terus berulang-ulang seperti itu. Pernah berada disatu titik dimana saya ngerasa 'ah udah deh, udah ngak bisa ini mah', saking lelahnya saya dalam menghadapi itu semua, keputus asaan itu sirna ketika mama saya angkat bicara 'kakak anak mama yang spesial, kakak jalan mama kesurga, kakak harus kuat' , dan untuk kesekian kalinya saya berusaha bangkit, untuk mama, untuk keluarga, untuk semua yang menaruh harapan agar saya bisa. Saya tidak ingin mengecewakan kepercayaan mereka, dan membuat mereka ragu akan langkah yang sedari awal saya ambil dengan mantapnya. Saya bangkit, saya berdiri, lalu berjalan dengan langkah yang lebih pasti. Orang-orang berfikir bahwa saya wanita yang egois, ambisius, bahkan terkadang kekanak-kanakan jika saya sedikit meringis atau mengeluh, saya tidak mengeluh dan menyalahkan siapapun tidak. Saya hanya kesal dengan diri saya, mengambil keputusan yang begitu besar seorang diri, saya ambil itu karna saya merasa saya mampu, tapi ternyata enggak semudah itu. Saya dihujat, saya dibully, saya dimaki, saya dikasari, saya diteriaki sudah penuh mungkin telinga ini jika bicara bagaimana perkataan yang ia dengar selama ini. Mulut ini terkunci? Tidak, kadang mulut ini pun sama kasarnya, angkat bicara dengan maksud untuk membela diri, tapi hasilnya nol yang semakin membuat satu tubuh terpojok. Disitu saya belajar, jika saya angkat bicara lalu menentang dan menanggapi apa yang mereka ujarkan itu akan semakin membuat mereka berasumsi buruk terhadap saya. Penambahan masalah baru akan muncul, maka dari itu saya hanya bisa diam, mengunci rapat mulut, dan menahan hati untuk tidak bergejolak, terpancing dalam api kemarahan saya. Mungkin benar yang dikatakan orang bahwa diam itu emas. Pernah juga disatu ketika saya khilaf, saya pelupa, sikap saya kurang baik, perkataan saya kotor, akhlaknya buruk, iman saya turun, dan saya terjatuh. Tidak ada yang mau mengulurkan tangannya untuk mengangkat saya berdiri kembali. Terjatuh lama saya disitu, dijurang saythan yang menghasut saya. Yang mengatakan 'kamu itu lemah, kamu munafik, kamu pansos, kamu pembohong, kamu durhaka' dan sebagainya. Sangat lama saya berada dalam fase keterjatuhan itu, tujuan awal saya, ambisi saya, target saya hilang seketika. Saya tidak percaya kepada siapapun karna saking saya merasa sendiri, saya merasa manusia paling buruk didunia ini. Itulah kesalahan saya, ingin hijrah tapi tidak memiliki teman yang bisa mengingatkan. Saya pernah memilikinya namun kepercayaan saya dipatahkan, sebab itu saya tidak mempercayai siapapun lagi. Saya hanya percaya kepada diri saya sendiri. Yaa saya merasa sendiri, saya tidak sadar bahwa Allah selalu ada disamping saya, selalu melihat setiap pergerakan saya, apa yang saya rasakan Allah tahu, apa yang saya kerjakan Allah juga tahu, dan bodohnya, saya tidak perduli itu. Lalu kapan semua itu berakhir? Sampai dimana saya lelah bermaksiat, saya pun lelah dalam zona seperti itu. Dalam malam yang sunyi, sepi, tanpa ada suara tanpa ada siapapun hanya ada saya dan Allah saja. Penampungan fikiran, tekanan dan beban yang selama ini saya simpan akhirnya pecah dimalam itu juga. Saya menangis sekencang-kencangnya, saya teriak pada diri saya 'dasar manusia hina, tidak tahu diri, Allah ada selalu melihat kamu! Tapi kamu menjadi hamba yang durhaka!' 'kamu bodoh, kamu tidak bisa melihat kebaikan! Kamu buruk sekali Dimata ini!' begitu saya meneriaki dan memaki diri saya sendiri. Disitu saya belajar bersyukur, bersyukur atas apa yang saya punya, atas apa yang saya jalani. Allah menyiapkan itu, Allah mentakdirkan itu karna allah tahu saya mampu. Semua yang saya tulis masih berlaku dalam hidup saya hingga saat ini, saya hanya ingin mengingat bagaimana saya futur dan bagaimana cara saya kembali menjadi hamba-nya. Hanya ingin mengingatkan diri saya jika sewaktu-waktu saya kembali terjatuh, setidaknya ada tangan yang setia mengulur dan manarik cepat agar tidak terlalu lama dalam keterjatuhan itu. Pada intinya, selalu bersyukur, selalu tabah, selalu berdoa agar dikuatkan sama Allah, dan selalu percaya bahwa kita tidak sendiri, ada Allah. Dan saat kita merasa sudah tidak bisa maka berfikir lah 'allah menggariskan ini karna kamu bisa, karna kamu kuat melewati itu semua'. Jangan lupa bahagiaaaa π
Dwi Nur Rizky
PenulisHai aku Kiki, aku seorang mahasiswi diiain Pontianak Kalimantan barat. Aku memiliki mata coklat yang besar, aku pun memiliki alis yang tebal, kau hanya bisa mengenali ku melalui mata ku saja karena sebagian wajah ku sudah ku putuskan untuk menutupi nya .. tinggi ku hanya 140cm dan berat ku sekitar 39-40an kg .. so aku paling kecil diantara teman teman ku ..

0 komentar:
Posting Komentar