Assalamualaikum warahmatullahi wabaraqatuh
Saya Dwi Nur Resqi biasa dipanggil kiki dari kelas 4E dengan nomor induk mahasiswa 11901083 akan menyerahkan laporan bacaan saya dilaman blog pribadi ini. Pertama Tama terimakasih kepada ibu Farninda Aditya M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Magang 1 yang telah memberikan tugas berupa menulis dilaman blog pribadi.
Karna sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis lagi diblog, jadi tulisan pertama ini saya akan membahas tentang KULTUR SEKOLAH.
Pasti sudah tidak asing lagi mendengar kalimat kultur iya kan, nah kata kultur ini tidak lepas dari kata budaya. Sebelum lanjut ke kultur disekolah, kita bahas dulu yuk pengertian kultur dan apa sih persamaan nya dengan kata budaya?.
Dikutip dari Wikipedia, Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi; diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura. Secara singkat, kultur adalah bagian dari budaya itu sendiri.
Kata kultur dipakai untuk menunjukkan suatu kegiatan atau kebiasaan khusus yang sering dilakukan berulang disuatu wilayah dan menjadikannya milik wilayah tersebut, dalam artian sesuatu itu menjadi ciri khas atau maskot yang turun temurun. Nah sama hal nya dengan kebudayaan, baik itu kebudayaan daerah dan masyarakat yang dilakukan/diterapkan secara turun-temurun dan terus menerus. Tapi karna kita membahas tentang dunia pendidikan, tentunya kita harus tapi definisi dari kelembagaan tersebut.
Lembaga Pendidikan adalah wadah atau tempat terjadinya proses pendidikan yang memberikan pengetahuan kepada para peserta didik dan mengubah tingkah laku individu ke arah lebih baik melalui interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. Pengetahuan yang didapat bisa berupa perubahan cara berfikir maupun pembentukan karakter. Sejatinya sekolah adalah tempat mencetak generasi muda untuk melanjutkan cita negri. Salah satu cabang dari lembaga pendidikan adalah sekolah, nah tentunya kita pasti tau apa itu sekolah bukan. Karna disanalah kita merasakan pahit manisnya belajar dan duduk di bangku sekolah. banyak hal yang kita ketahui tentang dunia melalui pendidikan disekolah, apa yang awalnya tidak kita ketahui menjadi tahu, itulah tujuan sekolah didirikan.
Didalam lingkungan pendidikan (sekolah) pun terdapat beberapa hal yang harus kita ketahui loh, salah satu nya topik yang kita bahas yaitu kultur atau budaya.
Kultur kebudayaan tidak hanya dari lingkungan masyarakat saja, tapi juga dilingkungan pendidikan pun ada.
Setiap sekolah memiliki budaya yang berbeda-beda hal itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan atau kebiasaan warga sekolah dan mungkin juga dipengaruhi oleh pemimpin sekolah itu sendiri. Karna tentunya sekolah wajib memfilter atau menyaring budaya yang masuk ke sekolah, apakah budaya tersebut berdampak positif atau malah sebaliknya. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Mengutip dari Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:
“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and asporation: special rituals and ceremonies: unique history of achievement and tradition: unique socio-economic and geographic location”.
Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).
Mengapa demikian? Karna kultur sekolah akan memengaruhi hal hal penting tersebut, yang akan menentukan apakah sekolah ini memberikan cerminan baik Dimata masyarakat atau tidak. Karna masyarakat pun melihat pelayanan apa saja yang diberikan oleh lembaga pendidikan satu ini, dan apakah budaya atau kultur sekolah sesuai dengan kebudayaan dan kultur setempat. Jadi memang sudah semestinya sekolah benar-benar memperhatikan betul segala sesuatu yang masuk kedalam lingkungan pendidikan. Ini pun pasti berpengaruh terhadap peserta didik, apabila mereka tidak dapat menyaring maka gagal lah sudah sistem pendidikan terhadap mereka. Karna tugas sekolah adalah memastikan yang masuk ke dalam pemahaman peserta didik sesuatu yang baik bagi mereka. Ditegaskan juga bahwa kultur sekolah dijadikan maskot atau ciri khas sekolah tersebut sudah semestinya sesuatu yang membuat nama sekolah menjadi terlihat khusus Dimata masyarakat atau pun orang luar. Persaingan kultur antar sekolah pun tidak terelakkan, seakan menjadi ajang lomba bagi sekolah sekolah demi menjadi sekolah terbaik dengan kultur yang baik pula.
Kultur sekolah dilihat dari berbagai hal yang terjadi didalam lingkungan sekolah, baik berupa nilai nilai, norma, atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan (kerap terjadi) didalam sekolah. Menurut Deal dan Kennedy (dalam Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) mengatakan bahwa kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Menjadi ciri khas seperti yang sudah kita bahas diatas.
Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
Kultur sekolah pun harus benar-benar dipilah dan dipilih guna untuk menyaring bagian mana yang boleh masuk ke dalam lingkungan pendidikan dan mana yang harus dihilangkan/dihindarkan. Kultur sekolah haruslah memiliki nilai nilai atau sifat serta karakteristik yang baik, seperti mengandung kebiasaan kesopanan, nilai moral, adab, bersifat prestasi atau akademik, bakat dan sebagainya yang menunjang peningkatan proses pendidikan. Yang perlu dihindarkan adalah kultur sekolah yang sebenarnya tidak bisa dijadikan kultur namun kebiasaan buruk yang harus dimusnahkan, tentunya kebiasaan kebiasaan ini bersifat negatif. Maka dari itu, pemimpin lembaga pendidikan beserta masyarakat sekolah wajib memerangi hal tersebut dan Menggantinya dengan kultur yang baik dan sehat. Ada beberapa kultur yang direkomendasikan oleh Depdiknas yaitu kultur yang terkait prestasi/kualitas contohnya seperti semangat membaca dan mencari referensi; keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; kecerdasan emosional siswa; keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; dan kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
Adapun Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial mencakup nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; nilai-nilai keterbukaan; nilai-nilai kejujuran; nilai-nilai semangat hidup; nilai-nilai semangat belajar; nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; nilai-nilai untuk menghargai orang lain; nilai-nilai persatuan dan kesatuan; nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; nilai-nilai disiplin diri; nilai-nilai tanggung jawab; nilai-nilai kebersamaan; nilai-nilai saling percaya; dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah. hal ini tercantum dalam Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26.
Selain itu, kultur sekolah memiliki sifat-sifat tertentu loh, sifat tersebut dibagi menjadi tiga yakni kultur sekolah bersifat positif, kultur sekolah bersifat negatif dan kultur sekolah bersifat netral. Kita bahas satu persatu ya, dimulai dari kultur sekolah bersifat positif adalah kultur yang mendukung atau mendorong serta memicu proses pembelajaran atau proses pendidikan seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Contohnya ya komitmen dalam belajar, memberikan penghargaan kepada yang berprestasi, atau saling menjaga kepercayaan sesama warga sekolah serta saling suport (mendukung). Nah kultur sekolah yang bersifat positif ini harus dilestarikan ya.
Kemudian kita membahas yang kedua yaitu kultur sekolah bersifat negatif, adalah kultur yang menghambat proses pendidikan, semisalnya banyak jam kosong didalam kelas yang memicu peserta didik ricuh, memulangkan peserta didik lebih awal tanpa alasan yang jelas, banyak siswa yang takut mengemukakan pendapatnya dan cenderung menyembunyikan sesuatu enggan berbagi kepada guru atau yang berwenang terhadap pembentukan karakter peserta didik, dan saling menjatuhkan antara satu sama lain. Hal seperti ini tidak layak dilestarikan apalagi menjadi kebiasaan didalam dilingkungan pendidikan.
Lanjut lagi membahas yang ketiga yaitu kultur sekolah bersifat netral, maksudnya adalah kultur yang tidak mendukung maupun menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya.
Nah ketiga sifat kultur ini tentunya memberikan kita gambaran, mana yang sebaiknya kita lestarikan dan mana yang seharusnya kita tinggalkan.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang pelajar menanggapi hal tersebut? Nah tentunya kita sebagai pemuda dan pemudi bangsa yang berjuang dalam mengenyam pendidikan sudah harus tau mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk kelangsungan pendidikan kita. Saya pernah mendengar sebuah kasus dimana sebuah sekolah mempunyai kultur yang unik, yang menjadikannya maskot atau label dari sekolah ini. Apa itu? Yaitu mereka menerapkan sistem belajar tambahan sehingga sistem tersebut banyak melahirkan siswa berprestasi hingga tingkat nasional. Nah sistem nya itu seperti ini, pagi mereka menjalankan pembelajaran seperti biasa hingga jam belajar usai sekitar pukul 13:00 siang, kemudian dilanjutkan dengan belajar tambahan (bimble) khusus dari sekolah yang mengharuskan mereka belajar lagi hingga bawah hari pukul 16:00. Kemudian malam hari mereka mengikuti kelas online, kurang lebih satu jam. Hal tersebut terus menerus berulang dan menjadi kebiasaan dan program khusus disekolah tersebut kemudian menjadikan nya budaya atau kultur sekolah. Lalu apakah tanggapan kalian mengenai hal tersebut? Apakah kegiatan itu termasuk kultur sekolah? Apakah dampak positif dan negatif dari kegiatan tersebut? Mari kita bahas pemecahan masalah ini.
Yang pertama, kegiatan belajar tambahan tersebut tidak bisa disebut sebagai kultur melainkan program sekolah. Kenapa? Karna sejati nya kultur sekolah adalah sesuatu yang melekat dan menjadi kebiasaan yang mengandung nilai nilai didalamnya. Walaupun belajar juga mengandung nilai dan banyak positif nya.
Lalu apa sih dampak lain dari program sekolah tersebut? Ada dua ni temen temen, ada dampak positif dan dampak negatif nya loh. Jadi kegiatan tersebut memiliki dampak positif yaitu siswa mendapatkan jam pembelajaran khusus yang meningkatkan daya kemampuan dan memperluas daya fikirnya. Karenanya banyak siswa disekolah tersebut berhasil dan sukses membawakan nama sekolah mereka diajang olimpiade hingga tingkat nasional. Wahhh bangga sekali ya, hasil dari jerih payah belajar mereka berhasil mengharumkan nama sekolah dan orang tua mereka. Bisa dibilang membentuk murid menjadi anak cerdas. Dampak negatif nya apa kak? Apakah kalian tau ketika murid belajar terus menerus bisa beresiko tinggi terhadap gangguan mental? Bukan gangguan jiwa ya. Jadi begini gaes sederhana nya, jika siswa terus menerus diperas layaknya sapi. Membuat mereka berfikir dan berfikir setiap waktunya (walaupun ada jam istirahat) bisa membebankan daya berfikir mereka. Itulah kenapa dikatakan manusia bukanlah mesin. Mesin pun jika terus terusan dipergunakan pasti akan cepat rusak. Apalagi manusia yang punya batas kemampuan tertentu. Lalu apa solusi untuk hal tersebut? Ya belajar boleh boleh saja, menambah jam pelajaran pun sangat diperbolehkan, tapi harus diselengi dengan refreshing untuk siswa menyegarkan fikiran mereka. Jadi anak anak tidak akan terbeban kan dengan buku dan tulisan saja, tapi juga bersuka cita karna fikiran mereka yang masih fresh sehingga ilmu ilmu yang masuk dapat dengan mudah mereka pahami.
Jadi begitu ya teman-teman, konsep kultur sekolah atau budaya sekolah ini berbeda tipis dengan program sekolah. Sama sama menunjang pendidikan namun memiliki nilai dan maksud yang berbeda.
Mungkin hanya itu saja yang bisa saya bahas di tulisan saya kali ini, kutipan kutipan saya dapatkan dari sumber yang insyaallah amanah dan terpercaya, namun diluar itu pembahasan nya murni dari pemahaman saya pribadi. Jadi tinggal bagaimana teman-teman dapat memahami nya sesuai dengan sudut pandang kalian masing-masing. Membahas dan menggali kemudian memahami adalah tugas kita sebagai pelajar. Perbanyak membaca dan mencari tau apa yang ingin kita ketahui.
Semoga Allah mudahkan kita sebagai pelajar dalam mengenyam pendidikan. Akhirul Kalam, summasallammualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.


0 komentar:
Posting Komentar